«

»

Gerakan Nasional Pembelajaran Anak Jujur di TK Tzu Chi Indonesia

Siswa-siswi TK Tzu Chi  Indonesia membawakan lagu Si Kumbi Anak Jujur dan Terima Kasih Guruku dalam sosialisasi Gernas Manjur, Jumat (20/5/2016).

Si Kumbi anak jujur, tidak suka bohong

Karena yang suka bohong, dijauhi teman

Si Kumbi anak rajin, tidak suka nyontek

Karena yang suka nyontek bukan anak pintar

Kumbi.. Kumbi.. Yuk kita bermain bersama

Kumbi.. Kumbi.. Yuk belajar dan bergembira

Demikian petikan lagu Si Kumbi Anak Jujur yang ditampilkan siswa-siswi TK Tzu Chi  Indonesia Pantai Indah Kapuk, Jakarta dalam acara sosialisasi Gernas Manjur (Gerakan Nasional Pembelajaran Anak Jujur) di sekolah mereka pada Jumat (20/5/2016).

“Jujur itu berarti tidak boleh bohong kepada teman, kepada guru dan orang tua,” jawab Celine,  salah satu siswa TK B tentang arti kejujuran.

Ketua Umum HIMPAUDI, Netti Herawati menjelaskan latar belakang Gerakan Nasional Pembelajaran Anak Jujur.

Gerakan Gernas Manjur ini sendiri  dicanangkan oleh HIMPAUDI (Himpunan Pendidik Anak Usia Dini Indonesia). Kegiatan yang digelar di TK Tzu Chi Indonesia ini merupakan salah satu seremonial dimulainya Gernas Manjur secara serentak di berbagai kabupaten/kota se-Indonesia. Ketua Umum HIMPAUDI, Netti Herawati mengatakan dicanangkannya Gernas Manjur bermula dari kepedulian terhadap masalah-masalah bangsa saat ini. Padahal kejujuran adalah akar dari kecerdasan yang sesungguhnya.

“Yang kami harapkan sesungguhnya adalah perbaikan pembelajaran, perbaikan sikap untuk membangun kejujuran. Karena itu pembelajaran Aku Anak Jujur di ruang-ruang kelas kita, di rumah-rumah kita, di mana pun berada tidak akan mungkin terjadi kalau kejujuran tidak dimulai dari diri kita,“ ujarnya di  Sekolah Tzu Chi Indonesia, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

Direktur Sekolah Tzu Chi Indonesia Sudino Lim memberikan sambutan dalam acara sosialisasi Gernas Manjur.

Sementara itu Direktur Sekolah Tzu Chi Indonesia Sudino Lim mengatakan dukungannya terhadap program Gernas Manjur. Namun salah satu yang tak kalah penting adalah terkait dengan guru. Guru harus memancing para siswa untuk terbuka berkata jujur, berkata apa adanya. Termasuk jika ada masalah dalam pelajaran maka katakan ada masalah.

“Jadi selain kita melakukan program-program kejujuran terhadap anak-anak ya kita lakukan juga terhadap guru-guru. Guru juga harus terbuka, bicara jujur, bicara baik, kata-kata yang baik. Akhirnya ini akan tercermin saat anak-anak ujian. Anak-anak ujian, dia tidak berani buka buku, tidak berani menyontek, karena dia sudah ditanamkan saat itu . Kalau mengalami kesulitan di pelajaran bilang saja,” ujarnya.

Sudino Lim menambahkan, dengan interaksi yang baik antara siswa dan guru maka nilai-nilai kejujuran akan dibawa oleh anak ke rumah. Ketika dibawa ke rumah maka akan menciptakan snowball effect  atau efek bola salju yang baik. Sebaliknya jika guru tidak menonjolkan karakter kejujuran maka para siswa tidak akan bisa memahaminya. Ini karena kejujuran tidak dipelajari dari buku melainkan dari lingkungan sehari-hari.